Ternyata Ayah “Menakjubkan”

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun – dan (tapi) selalu  membutuhkan kehadirannya.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan. Baca lebih lanjut…

Iklan

Menikah Karena Buah Apel

Seorang lelaki yang sholeh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lazat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya” . Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini. “Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”. Baca lebih lanjut…

Puisi “Ketika Takdir Menyapa Si Pendosa”

ADAKALANYA……..
Apa yg kita inginkan tidak terwujud
Meskipun berbagai macam cara telah kita lakukan untuk mewujudkan semua keinginan itu
tapi……..
JUSTRU pa yg tidak kita inginkan dan kita hindari malah kita dapati

Sering terlintas difikiran penatku
Tentang apa arti hidupku ini,
Jika detik demi detik yang terlewati

hanya dijalani dengan derita
Bahkan dunia hanya ladang penyemai dosa
Yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu masa
Hanya karena ketidaktauan, dan kebodohan

Sungguh……..
Tidak ada yg mengetahui

Apa Makna dibalik semua yg kita alami dan dapati sepanjang usia
Sejak mata terbuka di pagi hari……..
Hingga terpejam kembali di malam hari
Oleh setumpuk aktifitas yang kita lakukan setiap harinya
Tidak kita……..
Tidak dia……..
Tidak juga mereka……..
Tapi kita semua
Yach…….. kita semua
Hanya makhluk, hamba, umat……..

yang hanya bisa berusaha
Selebihnya…. hasil adalah hak ALLOH sepenuhnya

Yach…….. berusaha……..
Hanya itu KATA yang tepat

untuk sebuah perjuangan hidup yang telah diberikan NYA
Meskipun tanpa bisa kita ingat kembali

bahwa telah ada perjanjian sebelumnya
Antara ALLOH dan RUH kita
Sebelum raga ini diciptakan
Bahkan…………….
sebelum kedua orang tua yang telah melahirkan kita tau
Bahwa kita adalah bagian dari TAKDIR mereka
Bahwa kita adalah titipan
Bahwa kita adalah amanah yang harus dijaga dan arahkan

kepada Jalan NYA
Kembali kepada Jalan yang diridhoi NYA
Yang menyurutkan perjuangan syaitan dan IBLIS Laknat
Yang selalu menghadang setiap langkah ikhlas kita
Menuju kebahagiaan yang hakiki

BUKAN SESAL yang kita miliki
Bukan Tangis yang kita kenali
Tapi tekad…….. semangat……..
Untuk berjuang lebih baik
Mengakui segala kesalahan dan kekhilafan kita
Sebagai manusia yang penuh salah dan dosa
Agar menjadi lebih baik di hari Esok
Dengan senyuman dan harapan
Kepada Takdir yang telah digariskan
Sebagai hamba yang taat dan beriman hanya kepada ALLOH swt

“Renungan di Malam Minggu”

Malam minggu bagi para remaja zaman sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya sebagai waktu luang untuk melepaskan penat setelah seminggu bergulat dengan pelajaran, namun bagi sebagian remaja, malam minggu identik dengan tradisi hura-hura dan wakuncar (waktu kunjung pacar). Kegiatan ini mulai marak seiring dengan masuknya budaya barat yang lebih ‘membebaskan’ hubungan antara laki – laki dan perempuan. Banyak remaja yang memanfaatkan waktu malam minggu atau malam ahad mereka untuk berhura-hura dan juga untuk ‘wakuncar’ (waktu kunjung pacar).

Seolah – olah sudah menjadi tradisi, bagi remaja yang tidak melakukan tradisi ini yakni pacaran dan hura-hura, dianggap kuper atau tidak gaul. Padahal kegiatan yang demikian itu jika dilihat dari segi manfaat lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.. Bagi remaja Islam, kegiatan malam minggu hendaknya tidaklah demikian, karena remaja Islam sejati tidak akan mengikuti budaya orang-orang kafir. Baca lebih lanjut…

Ketika Ingat “TEMAN LAMA” (bagian: 3)

Wahai saudara dan saudariku, waspadalah dengan peristiwa yang telah lalu!

Janganlah menjalin hubungan dengan wanita bila belum mampu menikah, karena hal ini akan mengganggu ibadah dan aktivitas lainnya.

Hendaklah wanita waspada atas bualan kaum laki-laki, boleh jadi dia hanya main-main atau iseng. Hati-hati terhadap janji palsu, apalagi dengan laki-laki yang belum dikenal atau ada tanda tidak baik akhlaqnya, karena laki-laki yang baik din (agama)nya tentu dia malu berbicara macam-macam kepada wanita yang bukan mahromnya.

Wahai suadariku, jika seorang pria berjanji akan menikah denganmu dan kamu setuju karena din dan akhlaqnya yang mulia –untuk menghindari penipuan dan bahaya lainnya- maka segeralah minta kepastian agar dia datang ke rumah orang tuamu, supaya cepat selesai urusannya. Hindarkan diri dari surat menyurat dan bicara dengannya lewat media apapun. Baca lebih lanjut…

Ketika Ingat “TEMAN LAMA” (bagian: 2)

Alhamdulillah…….,

berkembangnya dakwah as-Sunnah yang disebarkan oleh para da’i Ahlussunnah khususnya di Indonesia, melalui majelis ta’lim terbuka, CD atau kitab dan majalah pembela as-Sunnah, telah membawa manfaat yang besar. Terutama bagi para pemuda dan pemudi yang haus akan pemahaman din (agama) yang benar, adanya kajian-kajian Islam Kaffah (menyeluruh) yang membahas semua problem hidup manusia termasuk pergaulan bebas muda-mudi masa kini yang sangat terasa banyak madhorotnya, mereka menjadi terbuka hatinya dan menyadari atas dosa dirinya pada saat hidup dalam ’kegelapan’ di bangku sekolah yang bercampur pria dan wanita atau di tempat kerja. Sehingga dalam benak mereka timbul pertanyan, bagaimana cara melupakan ”teman lama” yang masih tersimpan di hatinya.

Yang dimaksud dengan ”teman lama” di sini ialah teman pergaulan bebas antara muda mudi atau ”pacar”. Mulanya karena bertatapan muka di jalan, di sekolah, di kantor/tempat kerja, di kendaraan, di warung, di toko, tempat hiburan, dan lainnya, atau lewat surat kabar, majalah, internet, lalu berlanjut menjalin hubungan lewat surat menyurat atau SMS, berbicara lewat telepon atau internet dan media lainnya. Bahkan terlanjut dengan duduk berduaan saling memandang dan melakukan tindakan lain yang pasti membahayakan din (agama) dan kehormatan diri. Lebih parah lagi bila hal itu menimpa wanita. Bahkan tidak sedikit yang harus menikah setelah hamil beberapa bulan, Na’udzubillahi min dzalik. Baca lebih lanjut…

Ketika Ingat “TEMAN LAMA” (bagian: 1)

Suatu ketika seorang istri turut suami bertandang ke kampung halaman suami beserta anak-anaknya yang lugu dan lucu. Setibanya di kampung mereka disambut dengan suasana desa yang asri dan kesegaran udaranya. Untuk sementara mereka merasakan kedamaian hidup di desa.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, dengan kehendak Allah ta’ala kedamaian tersebut mulai terusik hanya oleh pandangan mata suami kepada seorang wanita. Suasanaserentak berubah. Suami yang melakukan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Demikian juga istri menyaksikan kejadian tersebut mulai dirundung syakwa sangka akan apa yang telah terjadi pada suami dengan wanita tersebut. Akhirnya diketahui bahwa wanita itu ternyata ”teman lama” si suami alias bekas pacarnya. Baca lebih lanjut…

AKU Pernah Datang dan AKU Sangat Patuh

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah ’saya pernah datang dan saya sangat penurut’.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian, dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Baca lebih lanjut…

Dia IMAM_KU

Langkahku terhenti di depan pintu bilik utama, aku melihat suamiku sedang duduk di kursi rehat di dalam bilik tidur kami itu. Kaku, Fakhry khusyuk membaca buku Aku Terima Nikahnya, karya ustaz Hasrizal Abdul Jamil yang baru seminggu kubeli. Ajnabi itu kini sah menjadi suamiku selepas ijab kabul dua hari yang lalu. Taaruf yang diaturkan ibu bapanya dan ibu bapaku lah yang menyatukan kami. Ibu memaksa aku menerima Muhammad Aleef Fakhry itu sebagai pasangan hidupku walaupun aku tidak pernah mengenalinya selama ini, kata ibu, Fakhry seorang yang alim dan kuat agamanya, jadi dia mampu menjadi Pemimpin yang baik dalam melayari alam rumah tangga. Aku terpaksa merelakan diri untuk menerimanya karena tidak mau durhaka kepada ibu.

Wajah itu kupandang dari jauh secara senyap, wajah mulus itu memang tak jemu dipandang. Ada sinar pada wajahnya yang membuat aku tak mampu berpaling dari wajah itu. Sebelum ini aku jarang berkesempatan untuk menatap wajahnya walau dari jauh karena sibuk dengan urusan perkawinan itu dan melayani tamu yang tidak henti-henti berkunjung ke rumah. Saat ini, aku sudah mengikuti suamiku pindah ke rumahnya yang memang tersedia sebelum kami menikah, jadi hanya ada kami berdua saat itu di rumah dua tingkat yang ditata ringkas. Dadaku berdebar, perasaanku seakan terusik, aku segera mengalihkan pandangan. Dia suamiku, mengapa aku harus malu untuk menatap wajahnya? tapi aku tidak pernah kenal dia selama ini…fikirku sendirian.

“Maira…” suara itu lembut memanggil, menyadarkan aku dari lamunanku. Wajah Fakhry kupandang semula walaupun mukaku sudah merona merah menahan rasa malu yang mencengkam diriku. Baca lebih lanjut…