Suatu ketika seorang istri turut suami bertandang ke kampung halaman suami beserta anak-anaknya yang lugu dan lucu. Setibanya di kampung mereka disambut dengan suasana desa yang asri dan kesegaran udaranya. Untuk sementara mereka merasakan kedamaian hidup di desa.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, dengan kehendak Allah ta’ala kedamaian tersebut mulai terusik hanya oleh pandangan mata suami kepada seorang wanita. Suasanaserentak berubah. Suami yang melakukan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Demikian juga istri menyaksikan kejadian tersebut mulai dirundung syakwa sangka akan apa yang telah terjadi pada suami dengan wanita tersebut. Akhirnya diketahui bahwa wanita itu ternyata ”teman lama” si suami alias bekas pacarnya.

Sekedar contoh yang begitu sederhana, dan memang sesederhana itulah kejadiannya. Namun tahukah kita apa yang akan terjadi di balik kesederhanaan itu? Apakah akan berakibat yang sederhana juga? Belum tentu demikian. Sebab kejadian yang tampaknya sederhana itu bisa menjadi pemicu timbulnya keretakan hubungan pasutri. Malah bisa berbuntut perselisihan, adu mulut dan pertengkaran yang tidak lagi sesederhana kejadian awalnya. Bahkan tidak jarang akan berakhir pada satu keputusan cerai. Ya, cerai. Solusi akhir yang begitu pahit, dan terkadang membuahkan kepahitan demi kepahitan lainnya.

Akhirnya muncul ungkapan-ungkapan penyesalan, ”Seandainya dahulu aku tidak bergaul bebas dengan teman-teman wanita…,” atau ”Seandainya dahulu aku tidak membiarkan diriku bergaul bebas dengan laki-laki…”, serta ungkapan lain yang semuanya hanya andai-andai yang tidak akan mengubah masa lalu, tidak kuasa pula menghapus rasa malu dan duka di dada. Akankah akibat seperti ini dinilai sederhana? Tentunya tidak.

Yang tidak boleh kita lupakan bahwa akibat buruk ingat ”teman lama” tentu ada sebabnya, yang mana bila sebab-sebab itu hilang maka dengan kehendak Allah ta’ala akibatnya pun terhalangi. Kita juga harus menyadari bahwa setiap orang memiliki masa lalu,baik laki-laki maupun perempuan. Dan boleh jadi, sebagaimana masa lalu yang banyak dialami seorang wanita akan lebih pedih dan menyakitkan bagi diri juga bagi keluarganya. Sehingga perlu ada usaha preventif mengantisipasi timbulnya akibat buruk ingat teman lama dengan menghilangkan sebab-sebabnya.

Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dengan berbagai bentuk, tempat, serta kesempatan boleh jadi menjadi terdakwa utamanya. Padahal sejak awal syari’at Islam telah mengatur pergaulan antar lawan jenis. Sehingga boleh dibilang problem ingat ”teman lama” muncul akibat dari tidak diindahkannya syari’at pergaulan antar lawan jenis yang bukan mahrom alias tidak adanya taqwa.

Bila seseorang senantiasa memperhatikan aturan syari’at, lebih khusus tentang pergaulannya dengan lawan jenis, tentu ia akan mengenang masa lalunya yang indah tanpa resiko apa-apa. Sebaliknya bila ia lali akan aturan syari’at sudah selayaknya ia akan mengenang masa lalu diantaranya ingat teman lama, dengan kedudukan dan kekecewaan.

Akhirnya, hanya seruan buat saudara-saudariku kaum muslimin untuk segera kembali ke jalan syari’at Allah azza wa jalla dalam hal bergaul dengan lawan jenis. Bertaqwa dalam setiap tempat, kesempatan, dan keadaan agar masa kini yang sedang kita jalani tidak menjadi masa lalu yangmengecewakan kelak, sehingga akan menambah berat beban derita, baik di dunia terlebih lagi di akhirat.

Wallahua’lam.

BERSAMBUNG DI BAG. 2……

Iklan