Langkahku terhenti di depan pintu bilik utama, aku melihat suamiku sedang duduk di kursi rehat di dalam bilik tidur kami itu. Kaku, Fakhry khusyuk membaca buku Aku Terima Nikahnya, karya ustaz Hasrizal Abdul Jamil yang baru seminggu kubeli. Ajnabi itu kini sah menjadi suamiku selepas ijab kabul dua hari yang lalu. Taaruf yang diaturkan ibu bapanya dan ibu bapaku lah yang menyatukan kami. Ibu memaksa aku menerima Muhammad Aleef Fakhry itu sebagai pasangan hidupku walaupun aku tidak pernah mengenalinya selama ini, kata ibu, Fakhry seorang yang alim dan kuat agamanya, jadi dia mampu menjadi Pemimpin yang baik dalam melayari alam rumah tangga. Aku terpaksa merelakan diri untuk menerimanya karena tidak mau durhaka kepada ibu.

Wajah itu kupandang dari jauh secara senyap, wajah mulus itu memang tak jemu dipandang. Ada sinar pada wajahnya yang membuat aku tak mampu berpaling dari wajah itu. Sebelum ini aku jarang berkesempatan untuk menatap wajahnya walau dari jauh karena sibuk dengan urusan perkawinan itu dan melayani tamu yang tidak henti-henti berkunjung ke rumah. Saat ini, aku sudah mengikuti suamiku pindah ke rumahnya yang memang tersedia sebelum kami menikah, jadi hanya ada kami berdua saat itu di rumah dua tingkat yang ditata ringkas. Dadaku berdebar, perasaanku seakan terusik, aku segera mengalihkan pandangan. Dia suamiku, mengapa aku harus malu untuk menatap wajahnya? tapi aku tidak pernah kenal dia selama ini…fikirku sendirian.

“Maira…” suara itu lembut memanggil, menyadarkan aku dari lamunanku. Wajah Fakhry kupandang semula walaupun mukaku sudah merona merah menahan rasa malu yang mencengkam diriku.

“Ya abang…” lambat-lambat aku membalas. Fakhry memandangku, tiada riak pada wajahnya. Aku tak mampu menduga apa yang ada di fikirannya sekarang.

“Abang pinjam buku ini dulu ya,” lembut dia meminta. Aku mengangguk perlahan, aku sudah khatam membaca buku itu sehari selepas kubeli lagi. Tidak sabar menghabiskan naskah yang mengandungi pelbagai ilmu alam rumah tangga, memandangkan saat itu aku juga bakal mendirikan rumah tangga, aku ingin bersedia untuk menjadi seorang isteri. Fakhry khusyuk membaca, aku melangkah menghampirinya lalu duduk berdekatan tempat Fakhry duduk.

“Hmm, abang suka membaca?” aku bertanya, mengambil peluang untuk mengenali insan yang baru pertama kali kukenali dua minggu lepas, ketika sesi taaruf.

Perlahan dia memandang ke arahku seraya mengangguk, duduknya dibetulkan. “Abang suka baca buku kerohanian dan keagamaan. Buku ni pun menarik. Cara penyampaiannya mudah difahami.”
Kami ibarat dua orang insan yang baru saja berkenalan. Aku tersenyum. Aneh rasanya dapat berbual dengan suamiku itu walaupun perbualan kami terasa sedikit kaku.

Hari ini, Fahkry mulai bertugas kembali sebagai peguam syariah di bahagian syariah, Biro Bantuan Guaman Putrajaya sedangkan aku pula masih bercuti dari kerjaku sebagai ekskutif pentadbiran di salah sebuah syarikat korporat di ibu negara. Aku menghulurkan tas komputer riba pada Fahkry, dia menyandang tas itu di bahunya. Tangannya kucapai dan kukecup sebelum wajahnya kupandang semula. Fahkry membalas pandanganku dengan riak yang gementar. Perlahan-lahan, Fakhry mendekatkan dirinya padaku, tangannya merangkul bahuku lantas dahiku dikecup lembut.Aku terkesima dengan tindakannya.

“Abang pergi dulu ya…”

Aku mengangguk perlahan lantas tersenyum. Ada rasa bahagia yang mulai menyerap dalam diri.
Jam sudah menunjukkan pukul lima petang. Aku termenung sendirian di ruang tamu sambil menunggu Fahkry pulang dari kerja. Diriku kuhias seadanya sesuai dengan tuntutan agama yang menuntut isteri berhias untuk menyambut suami. Aku teringat kecupan lembut Fakhry pada dahiku pagi tadi. Adakah aku sudah jatuh cinta? Aku memang patut jatuh cinta padanya, suamiku.

Tapi Haikal, aku terdiam sendiri. Terkenangkan Haikal Hakimi, teman sepejabatku, insan yang pernah kucintai dulu. Aku tidak pernah meluahkan perasaanku pada Haikal tapi hingga kini aku merasakan aku masih mencintainya. Ya Allah, astaghfirullah haladzim, aku beristighfar, rasa berdosa karena memikirkan insan lain saat aku sudah bersuami. Aku harus lupakan Haikal, aku harus mencintai Aleef Fakhry karena dia suamiku. foto perkawinan kami yang terletak elok di tepi meja segera kugapai, semua insan akan merasa bahagia saat diijabkabulkan tapi aku, aku tidak pernah mengenali Fakhry sebelum ini, bagaimana aku dapat merasakan kebahagiaan itu saat diijabkabulkan dulu? Wajah itu kurenung, Fakhry memang tidak kalah dari segi paras rupa walaupun dia berbeda dari Haikal dari segi penampilannya, Haikal lebih kepada moden dan metroseksual sedangkan Fakhry lebih kepada gaya seorang ustadz. Aku harus bersyukur karena memiliki seorang suami yang soleh, aku mengingatkan diri sendiri.

“Maira rindukan abang ?”, Fakhry sudah berdiri tercegat di depan ku, entah sejak bila. Aku terkejut, foto perkahwinan kami segera kuletakkan di posisi asal. Aku segera bangun dari dudukku.

“Abang dah balik?,” tangannya kugapai dan kukecup.

“Assalammualaikum…” ucap Fakhry memberi salam. Aku membalas perlahan. “Waalaikumussalam…”

Fakhry menatap wajahku, sebelum tangannya merangkul bahuku. “Cantik isteri abang hari ini…” dia memuji sambil tersenyum seraya memeluk diriku.
“Abang bahagia dapat memiliki Humaira…”

Aku terkejut mendengar ungkapan hatinya yang luhur, dia ikhlas mencintai aku walaupun kami belum pernah berkenalan sebelum ini. Ya Allah, betapa mulianya hati suamiku karena menerimaku seadanya. Aku tersenyum bahagia lantas membalas pelukannya.
Suara iqamah yang dilaungkan Fakhry menusuk kalbuku. Sungguh indah suaranya menerjah gegendang telingaku.

“Allahu Akbar…” Fakhry mulai mengangkat takbir. Aku segera mengikutinya, menjadi makmumnya pada solat Maghrib itu. Selesai salam terakhir, Fakhry mulai berdoa.

“Ya Allah, semoga jodoh kami ini adalah yang terbaik buat kami, cambahkanlah rasa cinta dalam diri kami terhadapMu agar kami dapat mencintai sesama kami karena diriMu. Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi imam dalam rumahtangga ini dan berikanlah Nur Ainna Humaira kekuatan untuk menjadi makmumku dalam rumahtangga ini. Sesungguhnya Engkaulah yang telah menciptakan jodoh kami dan Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu, jadikanlah jodoh kami ini berkekalan hingga ke syurga. Amin…”

Aku mengaminkan doa Fakhry, ada air jernih yang mulai menggenang di kelopak mataku, terharu mendengar doanya.

“Ya Allah, semoga jodohku akan kekal bersama insan yang mulia ini, Ya Allah. Amin…” aku berdoa sendiri. Selesai sholat, kami sama-sama membaca Al-Quran. Fakhry membimbingku dan membetulkan bacaanku itu sebelum kami sama-sama menunaikan solat Isyak pula.

Malam itu aku sibuk menggantung baju ke dalam almari. Menyusun almari itu supaya kelihatan rapi. Tiba-tiba kurasakan ada orang yang memelukku dari belakang.

“Maira…” suara itu lembut menyapa telingaku.

Aku berpaling sedikit untuk memastikan insan itu suamiku. Ya, memang Fakhry yang sedang memelukku saat itu. Aku tersenyum sendiri. Walaupun Fakhry kelihatan kaku dan pendiam tetapi adakalanya dia menjadi romantik bila bersamaku.

“Ya abang, kenapa?” tanyaku walaupun mukaku mula merona merah karena malu diperlakukan. Pelukan Fakhry padaku makin erat.

“Abang cintakan Humaira.” Kata-kata itu lancar keluar dari mulut Fakhry. Dia yakin dengan perasaannya sedangkan aku. Adakah aku juga mencintainya?

“Apakah Maira juga cinta abang ?” pertanyaan itu bagai menjerut leherku. Aku sendiri belum pasti dengan perasaanku walaupun ada rasa bahagia yang mula menyerap dalam kalbuku saat bersama Fakhry.

Aku mengangguk perlahan. Mungkin benar ada cinta yang kian bersarang buat Fakhry. Aku harus menumbuhkan rasa cinta ini buatnya karena Fakhry ikhlas mencintai aku sedangkan aku tahu dia juga dijodohkan oleh ibu bapanya denganku, bukan atas kerelaan hatinya sendiri. Tapi kini aku dapat merasakan dia rela mencintai aku, seorang ajnabi padanya suatu ketika dulu, hinggalah saat kami diijabkabulkan. Aku harus mencintainya, aku tekad.

Fahkry membalikkan tubuhku lalu tanganku pegang dan dikecup.

“Terima kasih, sayang…” matanya mulai berkaca.

“Abang merasa bahagia.” Wajahku dikecup dari dahi turun ke kedua pipiku, hingga akhirnya hinggap pada bibirku sebelum dia kembali memelukku erat. Ya Allah, betapa bahagianya perasaan ini, apakah ini cinta?

Pagi itu aku mula masuk kerja, suasana masih seperti biasa. Ramai yang datang padaku mengucapkan tahniah. Aku merenung tempat Haikal, dia tiada di tempatnya. Teman kerjaku berkata, sejak berita perkawinanku tersebar, Haikal mulai berubah sikap, dia lebih banyak berdiam dan mengasingkan diri dari teman kerja.

Aku mengatur langkah ke pantry, ingin membasahkan tekak dan bersarapan ala kadar. Biskuit di pantry bakal menjadi mangsa perutku, aku berfikir sendiri. Saat melangkah masuk, aku melihat Haikal sedang minum di meja dalam pantry itu. Aku mengambil beberapa keping biskuit dan mug yang berisi air milo yang baru kubancuh lalu duduk mendekati Haikal.

Aku tersenyum pada Haikal namun senyumanku hanya dibalas dengan pandangan tajam.
“Mai bahagia sekarang?” pertanyaan yang keluar dari mulut Haikal membuat aku terkejut. Wajahnya kupandang, Haikal kelihatan kusut, tidak seperti Haikal yang biasa kukenali.

“Mai bahagia sekarang, Alhamdulillah, kenapa Haikal menanyakan hal ini?”

Haikal menghela nafas. “Sebab Haikal tak bahagia sejak Mai menikah… ”
Aku terdiam. dia tak bahagia? Aku tidak faham.

“Maksud Haikal?”

“Mai jangan Tanya seakan Mai tak tahu, selama ini Haikal mencintai Mai…”   Aku terpaku. Ya Allah, apakah ini benar? Insan yang pernah kucintai dulu juga menyimpan rasa yang sama buatku. Namun aku takkan mampu menjadi miliknya lagi karena kini aku hanya milik Aleef Fakhry.  Aku gelisah, tidak pasti bagaimana mau membalas pada Haikal.

“Maafkan Mai, maafkan Mai, Mai tak pernah tau bahwa yang Haikal cintai adalah Mai…”
“Tapi Mai cintakan Haikal juga kan?” pertanyaan Haikal itu ibarat belati yang menusuk jantungku.
“Mai akui, dulu Mai pernah suka Haikal, tapi kini hati Mai cuma milik suami Mai.” Akut egas bersuara. Tidak mau Haikal salah faham lagi.

“Mai akan terima balasan karena mengecewakan Haikal…” Haikal memberikan amaran lantas berlalu keluar dari pantry.

Aku terkejut, selama ini aku tidak pernah meluahkan maupun menunjukkan yang aku sukakan Haikal, bagaimana dia dapat mengetahui isi hatiku dulu. Ya Allah, inikah dugaanMu buatku? Aku dan Haikal saling mencintai namun aku hanya mengetahuinya saat aku sudah jadi milik Fakhry. Kini aku dapat rasakan segala cintaku buat Haikal sudah lenyap, cintaku hanya akan kuberikan pada Aleef Fakhry, suamiku. Tapi bagaimana dengan Haikal? Dia seolahnya tidak mampu menerima kenyataan ini sedangkan sebelum aku menikah, Haikal tidak pernah menunjukkan tanda yang dia sukakan aku, cuma sikapnya padaku selama ini, memang baik, aku fikir, dia sikapnya kepada semua orang memang baik, mungkin sangkaanku selama ini salah. Ya Allah, apakah yang Haikal akan lakukan padaku? Ya Allah, lindungilah aku dari segala kejahatan.

Petang itu, aku bergegas untuk pulang, aku segera melintas jalan untuk ke tempat mobilku diparkir, ketika tiba-tiba suatu suara memanggilku.

“Maira!” hanya suamiku memanggilku seperti itu, aku terfikir sebelum menoleh. Aku dapat rasakan tubuhku ditolak ke tepi, ketika itu juga sebuah mobil BMW meluncur laju menghantam sekujur tubuh lalu tubuh itu melayang di tengah jalan.

“Ya Allah!” aku menjerit ketika aku tersedar suamiku sudah ditabrak mobil. Aku merangkul Fakhry dalam pelukanku, darah mulai membuak keluar dari luka ditubuhnya, air mataku tak henti merembes dari pipi. Teriakanku keras, aku tak mampu menahan emosi lagi.

Fakhry tersenyum walaupun dia sekarat. Wajahku diusap lembut.
“Abang mencintai Humaira selamanya.” Kata-kata itu diucapkan sebelum perlahan mata itu tertutup.
“Abang!” aku menjerit sekeras-kerasnya.

“tersangka yang menabrak suami puan telah dikenal pasti sebagai Haikal Hakimi Abdul Halim. Motif penabrakan diklasifikasi sebagai dendam, kami sudah dapat menangkap tersangka, tindakan undang-undang akan dikenakan terhadapnya.” Panjang lebar polisi berpangkat Sersan itu memberikan keterangan. Aku hanya mengangguk perlahan, Haikal, ini rupanya balasan yang dia maksudkan. Sanggup dia mau menabrak aku, dan akhirnya Fakhry yang menjadi mangsa, aku terkejut. Karena Haikal, kini Fakhry koma di ICU, aku hanya mampu berdoa agar Fakhry mampu membuka mata semula suatu hari nanti.

Sebulan sudah berlalu, Fakhry masih terbaring. Aku setia duduk di sisinya sambil membacakan surah Yassin. Air mataku kubiarkan mengalir perlahan di pipi. Tak mampu aku menyeka air mata itu lagi. Selesai membaca surah Yassin, tangan Fakhry kugapai dan kugenggam.

“Abang…” aku memanggil lembut.

“Maira tahu abang bias dengar kata-kata Maira, bangunlah bang. Maira rindukan abang. Maira akui, waktu awal kita menikah dulu, tak ada sedikitpun perasaan cinta Maira pada abang. Maira tak pernah kenal abang sebelum ini, susah untuk Maira tumbuhkan rasa cinta ini untuk abang. Tapi Maira terharu, karena abang tak pernah putus asa untuk mendapatkan hati Maira dan mencintai Maira seikhlas hati abang. Sekarang abang, bangunlah dan saksikan yang abang dah lakukan, sekarang Maira akui, yang Maira cinta abang sepenuh hati Maira.” Aku meluapkan isi hatiku yang tersimpan selama ini. Air mata yang merembes kubiarkan saja.

Tiba-tiba tangan Fakhry menggenggam erat tanganku yang sedang memegang tangannya. Matanya perlahan-lahan dibuka.

“Terima kasih sayang…” Fakhry berbicara perlahan dan lemah. Aku terkesima, Fakhry sudah tersedar, aku menjerit dalam hati. Aku tersenyum dalam tangisan yang masih bersisa.

“Dokter!” aku memanggil doktor namun tangan Fakhry menarik tanganku dan merangkulku dalam pelukannya.

“Abang dah sehat mendengar kata-kata Maira.”

Aku tersenyum malu. Perlahan dia melepaskan rangkulannya padaku dan mulai menatap wajahku. Air mata yang masih bersisa di pipiku perlahan diseka dan wajahku didekatkan ke wajahnya lantas dikecup perlahan.

“Abang rindu menatap wajah Humaira. Abang tak suka melihat wajah Maira yang sedih menyambut abang.” Aku tersenyum mendengar kata-kata itu. Wajah Fakhry kukecup lembut, melepaskan kerinduan.

” Maira cinta abang.”Fakhry yang terkesima melihat aku mulai tersenyum.

“Abang pun cinta Maira lebih dari Maira cintai abang.” Fakhry merangkulku semula dalam pelukannya. Rasa bahagia mulai mengisi hatiku.

Sesungguhnya dia imamku, izinkan aku menjadi makmumnya. Aku tercipta dari rusuk kirinya agar dia dapat menyayangi dan melindungiku. Akan kuserahkan cinta ini buat insan yang mencintaiku ikhlas karena Allah, semoga jodoh kami kekal hingga ke syurga. Terima kasih Ya Allah karena memberikan jodoh yang terbaik buatku. Aku mencintaimu Muhammad Aleef Fakhry…