Hatinya gusar bukan kepalang. Ia terus uring-uringan nggak jelas. Gimana nggak? Jo sudah kenal cewek itu dari kecil, dan tiga tahun belakangan ini Jo suka sama dia. Namanya Mala, Sakit banget waktu Jo tahu kalo Mala baru jadian sama Ryan, sosok yang nggak asing lagi buat Jo. Ryan satu-satunya orang yang tahu kalo Jo nyimpen perasaan ke Mala. Ryan yang sudah Jo anggap sebagai sodara sendiri. Ryan yang selama ini Jo harapkan bisa jadi sahabat buat dirinya. Semuanya hancur.

Jo Cuma berusaha tabah, pura-pura jadi manusia paling tegar lalu mengalah. Jo kesal selama ini ia dekat dengan Tuhan, dan Tuhan semakin meyakinkan Jo kalau Mala adalah satu-satunya orang yang tercipta untuknya. Tapi apa yang Jo dapat? Kekecewaan, kepahitan. Tuhan nggak adil!! Jo marah sama Tuhan. Jo ingat masa-masa di mana Jo membela cintanya. Semua derita dan kepiluan memendam rasa selama tiga masa… Yang akhirnya hanya bisa menjadi seperti ini saja. “Apa yang Tuhan lakukan selama aku berseru, menangis lewat doaku? Jo sangat kecewa.

Semua teman sepelayanan menanyakan keberadaan Jo. ‘Ke mana anak itu? Ada apa dengannya? Yah, Jo menghilang dari persekutuan dan pelayanannya. Sirna begitu saja. Itu salah satu wujud protesnya ke Tuhan. Jo marah. Marah besar.

♪♫♪♫

Tatapan mata Jo berhenti pada satu titik. Diamatinya seorang gadis yang tengah tersenyum simpul menyapa kerumunan orang. Tersenyum pula begitu ia melihat Jo. Aneh…Jo merasa sangat mengenalnya, meskipun setelah lama berpikir ia belum bisa mengingat siapa gadis itu. “Hai Jo…” sapa gadis itu lembut. Jo tersenyum tipis. Isi kepalanya berputar mencoba mengingat siapa gadis di hadapannya itu. Sangat mudah mengingat namanya, Tena. Hanya itu saja yang terlintas di kepala Jo. Entah dari mana ingatan itu muncul, tapi bagi Jo itu tak jadi soal. “Tena ya? Tanya Jo memastikan. Gadis itu mengangguk diiringi senyum manisnya.

Entah kenapa Jo benar-benar pernah merasakan suasana seperti ini. Di mana dan siapa yang bersamanya saat itu? Tatapan mata Tena tajam penuh selidik. Ditatapnya Jo yang masih kebingungan. “Jo tak jadi soal dari mana aku berasal. Aku di ssini karena kamu butuh pertolongan.” Seperti membaca pikirna Jo, Tena gadis berkulit putih itu berucap. Jo semakin panik, siapa sebenarnya gadis itu? Siapa Tena sebenarnya?

“Aku butuh pertolongan?”

Tena mengangguk.

“Tunggu deh, emang aku kenapa? Pertolongan apa? Trus kamu sebenarnya siapa?

“Siapa aku mungkin suatu saat kamu akan menyadarinya yang jelas aku tahu betul masalahmu..”

“Sok tahu banget! Yang hidup aku, yang punya masalh aku dan yang tahu permasalahan itu ya Cuma aku!!!” Nada bicara Jo meninggi. Jo mulai kesal diperlakukan misterius seperti itu.

“Itu permasalahan kamu, kesendirian,” seru Tena singkat disambut tatapan Jo yang kebingungan.

“Jo kembalilah ke persekutuanmu, pelayananmu. Tuhan Cuma mau itu darimu…”

Jo tertunduk lemas. Tubuhnya mendadak kaku. Siapa gadis ini? Kenapa ia tahu semua permasalahannya?

“Tidak perlu bertanya-tanya kenapa kamu mengalami kepahitan ini. Tuhan sedang membentuk karaktermu. Tuhan menyiapkanmu untuk menjadi seorang pemimpin kelak…” Jo hanya pasrah. Terpojok rasanya mendengar kata-kata Tena. Jo diam dan memilih hanya mendengar.

“Jo, saat itu Yusuf nggak pernah mengeluhkan kehidupannya. Ia pernah dilempar ke sumur kering dan ia nerasakan kegelapan bercampur kesedihan, karena dibencai saudara-saudaranya yang harusnya jadi pembela baginya. Ia dijual dan dihargai 20 syikal perak, dibawa ke Mesir untuk jadi budak, difitnah istri Potifar, diseret dan dijebloskan ke penjara tanpa pernah ditanyai. Yang ia tahu mendadak dunia jadi gelap, segelap dinding penjara. Ia tak pernah mengerti kenapa semua itu harus ia alami… “Tena membawa Jo ke cerita yang sudah sering didengarnya.

“Tapi di situlah Tuhan membentuk ia. Semua itu proses Allah. Akhirnya Yusuf jadi raja dan menyelamatkan keluarganya, termasuk kakak-kakaknya yang pernah menjualnya, dari kelaparan. Yusuf menjadi penyelamat bagi keluarganya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi esok, karena itu Ia mempersiapkan kita. Dan semua itu melalui proses panjang dan menyakitkan…” Lanjut Tena dengan suara tenang.

Pikiran Jo mulai terbuka, “Gimana dengan kesendirianku?” tanya Jo dengan suara pelan. Tena menepuk bahu Jo, “Elia yang seorang diri, sehebat apapun ia bertempur melawan 450 nabi baal dan keluar jadi pemenang, ia tetap merasakan ketakutan yang teramat sangat. Ia dikejar Izebel yang mau membunuhnya. Dalam pelariannya Elia mengalamu konflik dengan dirinya sendiri. Ia menangis karena nggak ada yang peduli dengannya. Ia berjuang seorang diri. Ketakutan karena kesendirian membuat Elia yang baru menunjukkan kemenangannya yang luar biasa harus berlutut memohon kematiannya sendiri. Ia gagal menghadapi dirinya sendiri. Kesendirian, ketakutan… itu kan yang kamu rasakan sekarang? Berawal dari kekecewaan, merasa kehilangan pengharapan… dan kamu berjuang sendiri mengahadapi semua ini.”

Jo mengerjapkan matanya. Ditatapnya Tena seolah ingin mengiyakan semua ucapan gadis itu. Tena tersenyum bijak, lalu ia menegaskan kembali apa yang sempat diucapkannya, “Ingat Jo, Tuhan hendak mempersiapkanmu menjadi seorang pemimpin. Kembali ke persekutuanmu dan pelayananmu. Tuhan nggak pernah ninggalin kamu. Pulihkan kehadiran Tuhan dalam dirimu, hidupmu…”

Jo nggak lagi merasa terpojok. Jutru kini ia bersyukur telah bertemu gadis ini. Bodohnya ia mempersalahkan Tuhan yang justru punya rencana terbaik buat hidupnya, hanya karena persoalan yang dihadapinya. Kegalauan itu sirna. Jo merasakan kedamaian. Mungkin kedamaian yang sama seperti yang Elia rasakan ketika bertemu Tuhan dalam angin sepoi basa.

♪♫♪♫

Kini Jo telah kembali ke persekutuannya. Ia berhasil memulihkan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Pelayanannya tak lagi sekedar pelayanan biasa, ia lebih bersemangat dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya untuk Tuhan, Hatinya tepanggil. Satu lagi seorang pemimpin yang siap Tuhan pakai.

Tena gadis itu tak pernah lagi Jo temui. Tapi kehadirannya selalu ia rasakan setiap hari. Entahlah mungkin Tena adalah sosok malaikat penjaga yang selalu bersamanya dan yang Tuhan utus untuk menyadarkannya. Yah…, mungkin saja.